Selasa, 31 Desember 2013

Guru Sebagai Ujung Tombak Pendidikan di Sekolah

Guru Sebagai Ujung Tombak Pendidikan di Sekolah oleh : Tain, Mahasiswa UMK, Jurusan BK 2013 Dewasa ini pendidikan mendapat sorotan yang sangat tajam di negeri tercinta ini, Indonesia. Pendidikan bagaikan seorang putri yang terkadang di puja, tetapi lain waktu juga di caci maki. (bukan salah sang putri, tetapi sikap sang putri yang keliru). Jika bicara mengenai pendidikan, tidak akan salah jika berbicara tentang Guru dan anak didik atau siswa. Guru sebagai ujung tombak dari sebuah pendidikan banyak menyimpan berbagai macam predikat yang di dapat, dari yang baik sampai yang kurang sedap di dengar. Guru tidak hanya disanjung dengan keteladanannya, tetapi ia juga dicaci maki dengan sinis hanya karena kealpaannya berbuat kebaikan, meski kejahiliyahan itu bak setetes air di daun talas. Berbicara mengenai anak didik atau siswa juga sangat menarik, sebab dari merekalah guru dan pendidikan akan dinilai baik ataukah buruk, berhasil ataukah gagal. Keburukan perilaku anak didik cenderung diarahkan pada kegagalan guru membimbing dan membina anak didik. Padahal warna perilaku anak didik yang buruk itu terkonsumsi dari multisumber. Guru dan anak didik adalah padanan frase yang serasi, seimbang, dan harmonis. Hubungan keduanya berada dalam relasi kejiwaan yang saling membutuhkan. Dalam perpisahan raga, jiwa mereka bersatu sebagai “dwitunggal”. Guru mengajar dan anak didik belajar dalam proses interaksi edukatif yang menyatukan langkah mereka ke satu tujuan yaitu “kebaikan”. Dengan kemuliaannya guru meluruskan pribadi anak didik yang dinamis agar tidak membelok dari kebaikan dan kebenaran. Di tulisan ini akan dijelaskan bagaimana perjuangan seorang guru sebagai ujung tombak bagi sebuah pendidikan di sekolah. Yang juga akan di tunjang dari berbagai macam faktor yang menyertai perjuangan seorang guru untuk menjadikan sebuah pendidikan berhasil dan bermanfaat. Juga lebih khusus bagaimana membuat siswa atau anak didik menjadi manusia yang berakhlaq mulia, berprestasi dan berkarakter. Makna Pendidikan, Guru dan Anak didik Menurut T.Raka Joni, Pendidikan adalah proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan kedaulatan subjek didik dan kewibawaan pendidik. Sedangkan menurut Driyakarya, Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda. Itu makna pendidikan menurut beberapa ahli. Dalam Kamus Bahasa Indonesia juga menjelaskan difinisi pendidikan, yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. (kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991: 232) Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan (McLeod, 1989). Selanjutnya pengertian Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. (2005:31 Syaiful Bahri). Masyarakat umum mengartikan guru sebagai orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, di surau atau musholla, di rumah dan sebagainya. Sedangkan pengertian anak didik atau siswa adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. (2005:51 Syaiful Bahri). Itu lah beberapa makna atau pengertian Pendidikan, Guru dan anak didik. Tetapi dalam tulisan ini akan lebih menekankan sosok seorang guru yang menjadi pejuang dalam ujung dombak di sekolah tempat guru mengajar. Guru dan Tantangan Guru sebagai orang yang di muliakan, yang di segani, di hormati bahkan di takuti dalam sebuah proses di dalam pendidikan bukan tanpa rintangan dan tantangan untuk membuat pendidikan berhasil. Banyaka tantangan dan rintangan yang ada, baik itu dari faktor intern guru tersebut, maupun faktor ekstern guru. Faktor intern seorang guru yang manghambat dari sebuah pendidikan antara lain : 1. Guru kurang memahami dengan baik tentang materi atau pelajaran yang dia ajarkan. Jika ini terjadi hasilnya guru akan mengajar dengan seenaknya dan sekenanya. Sebab kurang bisa memahami dengan papa yang akan dia ajarkan. 2. Guru memiliki kelakuan atau tingkah laku yang tidak baik. Guru sebagai suritauladan anak didik akan rusak jika tingkah polah guru tidak mencerminkan orang yang baik dan benar. 3. Guru tidak memiliki tanggung jawab moral. Bagaimana masayarakat akan percaya dengan pendidikan di sekolah, dengan guru jika dalam proses dan hasil dari pendidikan itu tidak ada tanggung jawab dari guru. 4. Guru tidak disiplin. Bayangkan jika setiap hari guru dalam mengajar ke sekolah akan selalu terlambat dalam mengajar. Anak didik tidak kan mendapatkan panutan yang baik. Proses belajar mengajar akan terhambat. 5. Guru tidak profesional. Jika guru selain mengajar juga masih kerja sampingan seperti jualan rokok di kantin, menjadi sales buku dan lainnya, hal ini akan mebuat proses belajar mengajar akan terbengkalai, sebab guru tidak profesional. 6. Guru tidak kreatif Proses belajar akan hambar dan anak didik akan bosan jika seorang guru tidak lagi kreatif, inovatif. Guru jangan monoton dalam menyampaikan pelajaran, guru ditutut bisa lebih kreatif dengan kondisi bagai manapun. Faktor Ekstern hambatan seorang Guru, antara lain : 1. Guru memiliki keluarga yang Broken Home (keluarga bermasalah). Hal satu ini akan rentan menyebabkan kinerja guru di sekolahan akan berjalan dengan tidak baik. Sebab masalah keluarga akan selalu kebawa di meja mengajar atau kelas. 2. Guru dengan jarak rumah yang teramat jauh. Rumah seorang guru yang berjarak lebih dari 10km misalnya akan menjadi penghambat bagi guru untuk pergi mengajar. Setidaknya akan habis waktu dalam perjalanan. Kelelahan dalam perjalan mengajar akan berpengaruh buruk dalam pendidikan di sekolah. 3. Infrastruktur menuju sekolah jelek. Contoh, jika jalan atau akses menuju sekolahan tidak layak pakai, jalan yang rusak, banyak lubang dan lainnya akan menghambat kinerja guru dalam melangkah mengajar ke sekolah. Belum lagi jika terjadi kecelakaan sebab infrastruktur yang jelak dan rusak. 4. Minimnya buku bacaan atau materi pelajaran. Buku adalah salah satu syarat dalam proses belajar mengajar yang baik, jika buku bacaan atau buku materi mata pelajaran tidak ada maka akan terjadi hambatan dalam proses belajar di sekolah. Bagaiman guru dan siswa akan mengetahui materi yang disampaikan, juga bagaiman guru dan akan menambah pengetahuan dengan membaca jika buku bacaan tidak ada. Demikian faktor-faktor yang bisa menghambat kinerja guru dalam proses belajar mengajar, yang artinya juga menghambat fungsi guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah. Dengan demikian harus ada solusi yang harus di buat dan di jalankan agar fungsi guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah bisa berjalan dengan baik dan benar. Yang sesuai juga dengan peraturan perundang-undangan tentang profesi guru yang ideal, baik dan benar. Perjuangan Guru sebagai Ujung Tombak Pendidikan Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka di pundak guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Mengemban tugas memang berat, tetapi lebih berat mengemban tanggung jawab. Sebab tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus guru berikan pun tidak hanya secara kelompok (klasikal), tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi di luar sekolah sekalipun. Meski jika di luar sekolah sudah tidak menjadi menjadi tanggung jawab guru, tetapi tanggung jawab moral masih berjalan sampai kapan pun. Karena itu, tepatlah apa yang dikatakan oleh Drs. N.A. Ametembun, bahwa guru adalahsemua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dengan kemuliaannya, guru rela mengabdikan diri di desa terpencil sekalipun. Dengan segala kekurangan yang ada guru berusaha membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsanya dikemudian hari. Gaji yang kecil, jauh dari memadai, tidak membuat guru berkecil hati dengan sikap frustrasi meninggalkan tugas dan tanggung jawab sebagai guru. Karenanya sangat wajar di pundak guru diberikan atribut sebagai “ pahlawan tanpa tanda jasa”. Menjadi guru berdasarkan tuntutan hati nurani tidaklah semua orang dapat melakukaknnya, karena orang harus merelakan sebagian besar dari seluruh hidup dan kehidupannya mengabdi kepada negara dan bangsa guna mendidik anak didik menjadi manusia susila yang cakap, demokratis, dan bertanggung jawab atas pembangunan dirinya dan pembangunan bangsa dan negara. Persyaratan Guru Yang Ideal Ini ada beberapa syarat yang harus di penuhi oleh seorang guru jika ingin menjadi guru yang berfungsi menjadi ujung tombak pendidikan. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat dan kawan-kawan (1992:41) persyaratan menjadi guru yang ideal adalah sebagai berikut : 1. Taqwa kepada Allah SWT. Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam, tidak mungkin mendidik anak didik agar bertaqwa kepada Allah SWT, jika ia sendiri tidak bertaqwa kepada-Nya. Sebab ia adalah teladan bagi anak didiknya sebagaimana Rasulullah SAW. Menjadi teladan bagi umatnya. Sejauhmana seorang guru mampu memberi teladan yang baik kepada semua anak didiknya, sejauh itu pulalah ia diperkirakan akan berhasil mendidik mereka agar menjadi generasi penerus bangsa yang baik, benar dan mulia. 2. Berilmu Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan. Guru pun hartus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar. Kecuali dalam keadaan darurat, misalnya jumlah anak didik sangat meningkat, sedang jumlah guru jauh dari mencukupi, maka terpaksa menyimpang untuk sementara, yakni menerima guru yang belum berijazah. Tetapi dalam keadaan normal ada patokan yang jelas bahwa semakin tinggi pendidikan guru semakin baik pendidikan dan pada gilirannya makin tinggi pula derajat masyarakat. 3. Sehat Jasmani Kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular, umpamanya, sangat membahayakan kesehatan anak didik. Di samping itu, guru yang berpenyakit tidak akan bergairah dalam mengajar. Kita kenal ucapan “mens sana in corpore sano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Walaupun pepatah itu tidak benar secara keseluruhan, akan tetapi kesehatan badan sangat mempengaruhi semangat bekerja. Guru yang sakit-skitan kerapkali terpaksa absen dan tentunya merugikan anak didik. 4. Berkelakuan Baik Budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi teladan, karena anank-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi guru berakhlak mulia pula. Guru yang tidak berakhlak mulia tidak mungkin dipercaya untuk mendidik. Yang dimaksud akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti dicontohkan oleh pendidik utama, Nabi Muhammad SAW. Di antara akhlak mulia guru tersebut adalah mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi, bekerjasama dengan guru-guru lain, bekerjasama dengan masyarakat. Termasuk disini para wali dari anak didik. Demikian syarat menjadi guru yang ideal guna memfungsikan guru sebagai ujung tombak pendidikan, menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat. Di Indonesia untuk menjadi guru diatur dengan beberapa persyaratan, yakni, berijazah, profesional, sehat jasmani dan rohani, taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepribadian yang luhur, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional. Prinsip Profesionalitas Guru Untuk memperkuat dalam perjuangan guru sebagi ujung tombak pendidikan, disini ada bebrapa prinsip profesionaliats guru yang harus dimiliki, anatara lain : a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas. d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. e. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionaln. f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja. g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Selanjutnya semua itu tergantung kambali kepada seorang guru. Sebab ada ungkapan bahwa tidak ada anak didik yang bodoh, yang ada adalah guru yang bodoh. Maka dari itu perjuangan guru lahir bathin harus di jalankan dengan baik dan benar. Motivasi harus dalam diri guru. Orang jawa bilang, “guru iku di gugu lan di tiru”, artinya semua ucapan guru itu akan di tiru oleh anak didik, juga semua perbuatan guru itu akan di tiru oleh anak didik. Demikan tugas seorang guru sebagai ujung tombak dari sebuah pendidikan disekolah. Dari semua urain di atas tidak akan berguna jika tulisan ini hanya sebagai pajangan rak belaka. Akn menjadi pepesan kosong yang tidak berarti jika tulisan ini tidak di implementasikan dalam aktifitas belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Terutama bagi guru maupun calon guru. Selamat berjuang guru-guru Indonesia, semangat, salam perubahan, salam cerdas dan santun.
Daftar Pustaka Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta : Rineka Cipta, 2005. Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000. Rugaiyah, Sismiati, Atik, Profesi Kependidikan, Bogor : Ghalia Indonesia, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

salam persahabatan