Senin, 07 Februari 2011

Sejarah Desa PAsuruhan Lor



SEJARAH DESA PASURUHAN LOR JATI KUDUS
Oleh Abu Nayya

Menurut cerita lisan dari para orang tua dahulu, asal nama Desa Pasuruhan Lor diambil ‎dari sebuah nama daerah di Jawa Timur bernama PASURUAN. Hal ini lantaran leluhur atau ‎cikal bakal yang telah diyakini sejak dahulu dari para orang tua hingga turun temurun sampai ‎sekarang, bahwa Mbah Surgi Murang Joyo adalah pepunden desa yang aslinya berasal dari ‎Pasuruan Jawa Timur.‎

Konon, dahulu Sunan Kudus mempunyai anak yang berguru pada seseorang di daerah ‎Pasuruan Jawa Timur. Melihat anaknya yang jauh-jauh mencari ilmu dan berguru sampai ‎daerah Jawa Timur, Sunan Kudus meminta kepada anaknya agar mengajak gurunya ke Kudus ‎untuk mengajarkan ilmunya di Kudus. Atas permintaan Sunan Kudus, kemudian guru anak ‎Sunan Kudus bersedia datang ke Kudus. Guru anak Sunan Kudus tersebut berjalan ke Kudus ‎dengan menggendong anak Sunan Kudus. Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya ‎sampailah di Kudus. Saat melewati pintu kembar Menara Kudus, guru anak Sunan Kudus ‎lemas dan terjatuh di daerah sekitar Jember sebelah barat Menara Kudus. Melihat kondisi ‎gurunya yang lemas, anak Sunan Kudus kemudian menyuruh anaknya kembali menemui ‎gurunya agar membaca syahadat. Setelah menjalani apa yang di perintahkan oleh Sunan ‎Kudus, yaitu membaca Syahadat, maka guru anak Sunan Kudus dapat berdiri kembali dan ‎minta agar dipertemukan kepada Sunan Kudus. Singkat cerita, kemudian guru anak Sunan ‎Kudus malah menjadi murid Sunan Kudus.‎

Guru anak Sunan Kudus yang menjadi murid Sunan Kudus, tak lain adalah MURANG ‎JOYO. Setelah sekian lama menjadi muridnya, kemudian oleh Sunan Kudus, Murang Joyo ‎diberikan suatu tempat untuk menetap di sebelah barat daya. Murang Joyo kemudian berjalan ‎menuju ke barat daya, sampai pada suatu tempat di persimpangan yang sekarang dikenal ‎dengan nama Tugu Telon (yang merupakan perbatasan tiga desa Pasuruhan Lor, Prambatan ‎dan Purwosari). Di tempat tersebut, Murang Joyo kebingungan mencari tempat yang di ‎maksudkan oleh Sunan Kudus. Hingga Akhirnya Murang Joyo melihat ke selatan. Ada kilatan ‎cahaya yang menunjuk sebuah pohon Gandri dan dianggap sebagai pertanda sebagai tempat ‎yang ditunjukkan oleh Sunan Kudus.‎


Selanjutnya, Murang Joyo berjalan keselatan menuju arah pohon Gandri. Dalam cerita, ‎Murang Joyo diberikan wasiat berupa Kembang Putih (bahasa jawa : Sekar Petak) yang ‎kemudian di kenal menjadi nama sebuah pedukuhan ”Sekar Petak”. Setelah sekian lama ‎menetap dan mempunyai banyak pengikut, kemudian oleh pengikutnya pedukuhan ini penjadi ‎sebuah desa dan di beri nama PASURUHAN, merujuk dari asal nama daerah Mbah Murang ‎Joyo. Dalam perkembangannya, karena semakin banyaknya masyarakat kemudian Pasuruhan ‎di bagi manjadi 2 bagian yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Untuk wilayah selatan ‎menjadi Desa tersendiri yaitu PASURUHAN KIDUL dan wilayah utara juga menjadi desa ‎sendiri yaitu PASURUHAN LOR. (Abu Nayya, Pasuruhan Lor Rt1/Rw3 372)‎

‎= = = =‎
Demikian seklumit sejarah yang masih butuh klarifikasi kebenaranya. Sisi baik dalam cerita ini ‎adalah minimal ada sebuah cerita yang bisa di jadikan pijakan awal untuk mencari kebenaran ‎cerita Sejarah Pasuruhan Lor tersebut.‎

Tulisan ini didapat oleh Abu Nayya Pasuruhan Lor. Mario mencari bersama-sama tentang ‎kebenaran Sejarah Tersebut.‎

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

salam persahabatan